Dark
Light
Dark
Light
Top Banner

Inovasi Konsumsi Haji 2024, Dari Cita Rasa ke Cinta Tanah Air

Inovasi Konsumsi Haji 2024, Dari Cita Rasa ke Cinta Tanah Air

SALAH satu yang sering disorot dalam penyelenggaraan Haji setiap tahunnya adalah, konsumsi para jemaah. Tajamnya sorotan ke aspek konsumsi karena menyentuh persoalan "kampung tengah" atau lebih ekstrimnya masalah "hidup matinya" para jemaah. 

Mengurus makanan para jemaah yang berjumlah ratusan ribu, bukan perkara mudah. Mengurus makanan satu tamu saja yang bermalam di rumah kita beberapa hari sudah merepotkan, apalagi ratusan ribu orang dalam waktu lama, betapa membutuhkan perhatian dan pengelolaan konsumsi yang luar biasa.

Mengapa disebut bahwa ini terkait langsung dengan "hidup matinya" para jemaah, karena makanan yang masuk itu akan menjadi asupan energi bagi mereka di mana ibadah haji dikenal sebagai ibadah fisik. Namun, bila makanan itu tidak terjaga kebersihannya, bisa berdampak pada masalah kesehatan jemaah, bahkan lebih buruk dari itu.

Sajian konsumsi juga perlu memperhatikan "cita rasa" (taste) bagi para jemaah kita. Mungkin penting memperhatikan aspek gizi atau kesehatan dari sebuah sajian, tapi bagaimana kalau rasa makanan tersebut tidak sesuai dengan "lidah" para jemaah?

Ada fenomena menarik tahun ini, jumlah keluhan terhadap sajian konsumsi jauh lebih sedikit dibanding tahun lalu. Artinya, tingkat kepuasan jemaah terhadap makanan yang disediakan lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. 

Dalam beberapa wawancara saya, misalnya, seorang jemaah mengatakan: "rasa tambah." Yang lain menyebutnya: "variatif". Yang lainnya mengatakan: "penyajiannya steril." Ada juga yang mengatakan bahwa untuk mengurus makanan dengan jumlah orang sebanyak ini, sajian konsumsinya sangat bisa diterima. 

Ada beberapa inovasi terhadap penyediaan konsumsi tahun ini yang berdampak pada meningkatnya tingkat kepuasan para jemaah, dan inovasi ini tidak terlepas dari perhatian langsung dan kebijakan Menteri Agama, Gus Yaqut Cholil Qoumas.

Pertama, untuk pertama kali dilakukannya pengiriman bumbu asli Indonesia ke Arab Saudi. Tidak kurang dari 80 ton bumbu yang dikirim untuk bisa dipakai oleh perusahaan katering supaya makanan yang disantap jemaah itu sesuai dengan tuntutan "lidah" mereka.

Jumlah 80 ton ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bumbu makanan jemaah, namun langkah inovatif ini sebagai ikhtiar untuk kepuasan jemaah. Ini bisa menjadi lebih masif pada pelaksanaan haji pada tahun berikutnya. 

Tingkat kepuasan pada makanan sudah pasti terkait langsung dengan bumbu yang dipakai, dibanding sebelumnya yang menggunakan bumbu yang tidak langsung berasal dari Indonesia. 

Kedua, untuk pertama kali juga disediakannya makanan siap saji bagi para jemaah. Makanan siap saji ini disediakan dua kali, pagi tanggal 8 Zulhijjah, sebelum jemaah bergerak ke Arafah dan pada tanggal 12 Zulhijjah siang, setelah para jemaah kembali dari Mina. Tujuan makanan siap saji ini adalah mengisi kekosongan konsumsi para jemaah, karena pada situasi tersebut, penyedia katering sudah terfokus pada pelayanan di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Distribusi makanan juga terdampak pengalihan arus lalu lintas. Banyak penutupan jalan.

Yang menarik, makanan siap saji ini dalam penelusuran saya ke beberapa jemaah, mereka mengakui sangat enak dan sesuai dengan selera mereka. Faktornya, makanan siap saji ini diproduksi dengan teknologi khusus dari Indonesia. 

Ketiga, terobosan untuk memenuhi kebutuhan selera makan para jemaah pada tahun ini adalah dihadirkannya kerja sama UMKM dengan pihak hotel di Tanah Suci. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bila para jemaah ingin menikmati makanan khas, misalnya bakso, mereka pergi ke tempat tertentu di Makkah. Dengan kerja sama ini, jemaah bisa mendapatkannya di hotel-hotel di mana mereka mereka tinggal. Tentu muara dari inovasi ini adalah untuk kepuasan jemaah. Karena dengan jemaah yang memiliki selera makan yang baik, itu sudah pasti berkorelasi dengan kebugaran fisik mereka untuk kelancaran ibadah haji mereka.

Satu "side effect" dari ikhtiar Gus Menteri dalam upaya menfokuskan perhatiannya pada kepuasan jemaah, bergulirnya ekonomi nasional di Tanah Suci. Bukankah selama ini, semua biaya haji yang dikeluarkan semua "ditumpahkan" di tanah suci?

Dengan mengekspor bumbu, memproduksi makanan siap saji, dan membukakan ruang UMKM untuk ikut berpartisipasi pada musim haji ini, semua bermuara kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat kita. Itulah, haji tahun ini juga menjadi momentum bagi penguatan haji untuk ekonomi kerakyatan. Haji untuk bangsa tercinta, haji nasionalis.

Zainal Abidin, anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024.

Gagas Terkini