Dark
Light
Dark
Light
Top Banner

Meneladani Abas Bin Abdul Mutholib: Kabid Pelayan Jemaah Haji Ramah Lansia Masa Rasulullah

Meneladani Abas Bin Abdul Mutholib: Kabid Pelayan Jemaah Haji Ramah Lansia Masa Rasulullah

Staf Khusus Menteri Agama Bidang Ukhuwah Islamiyah, Hubungan Organisasi Kemasyarakatan dan Sosial Keagamaan, Ishfah Abidal Aziz pada acara Bimbingan Teknis PPIH Arab Saudi 2024 menyampaikan bahwa pelaksanaan haji tahun ini merupakan pelaksanaan ibadah haji dengan jumlah jemaah terbesar dalam sejarah haji Indonesia. Jumlahnya tak tanggung-tanggung yakni mencapai 241.000 jemaah.

Dari jumlah itu 51.383 di antaranya merupakan jemaah lansia (elderly pilgrims). Dengan fakta ini, menjadi sebuah keniscayaan apabila fokus penyelenggaraan ibadah haji kali ini adalah haji ramah lansia, seperti tahun sebelumnya.

Pesan senada sebenarnya juga pernah disampaikan oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas pada acara Pembukaan Bimtek PPIH Arab Saudi pada 2023 lalu. Beliau meminta para petugas PPIH Arab Saudi tidak hanya memberikan pelayanan kepada jemaah haji, tetapi juga mampu menjadi problem solver atas permasalahan-permasalahan yang dialami jemaah di Tanah Suci.

Menag juga meminta kepada para petugas PPIH untuk memberikan komitmen dan profesionalismenya dengan sabar. Karena sabar adalah kunci kesuksesan petugas PPIH. Harapannya, dalam kondisi seperti apapun, dia meminta agar jemaah haji diperlakukan dengan penuh penghormatan seperti kita memperlakukan atau memuliakan orang tua kita sendiri. Bahkan Gus Men-demikian beliau akrab disapa-menyampaikan, andai kesabaran itu ada batasnya maka beliau meminta kesabaran dalam melayani tamu Allah hendaklah kesabaran tanpa batas (Sindonews.com: 12/3/2023).

Manajemen PPIH Rasulullah

Keinginan Gus Men untuk benar-benar memuliakan para tamu Allah (duyuf ar-rahman) bukan sebatas karena ini merupakan tanggung jawab besar beliau selaku menteri agama. Namun, hal ini juga sejalan dan terinspirasi pada keinginan beliau untuk mencontoh manajemen pelaksanaan ibadah haji di era Rasulullah SAW.

Dalam buku Sejarah Ka’bah, Ali Husni al-Kharbuthi menyampaikan bahwa memberi pelayanan kepada jemaah haji (hidmatul hajj) sudah menjadi tradisi mulia para Kabilah Qurays yang dilakukan hingga zaman Rasulullah SAW. Bahkan, dahulu Suku Qurays bahu membahu menjamu jemaah haji, menyambut dan memuliakan mereka di Baitullah. Sebelum musim haji tiba mereka melakukan pembagian 15 jabatan kepala bidang pada Kabilah Qurays untuk mengurus jemaah haji ini.

Sementara menurut Quraish Shihab, pakar tafsir jebolan Al-Azhar University, Kairo, menyampaikan bahwa, dahulu di Mekkah ada jabatan namanya As-Siqayah, yaitu semacam kepala bidang (kabid) yang bertugas menyiapkan kolam-kolam di sekitar Ka’bah lalu memenuhinya dengan Air Zamzam yang diangkut menggunakan unta dari sumur-sumur yang tersedia. Selain itu ada juga jabatan namanya Ar-Rafadah, kepala bidang yang bertugas menyiapkan makanan, khususnya bagi fakir miskin, orang tua atau lansia yang melaksanakan ibadah haji.

Pada masa itu (zaman Rasulullah SAW) tugas pelayaan jemaah haji ramah lansia diemban oleh Abbas bin Abdul Muthalib RA, sahabat yang sekaligus paman tercinta Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah menyampaikan bahwa Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku. Diceritakan pada suatu hari Abbas bin Abdul Muthalib meminta kepada Nabi Muhammad SAW agar dirinya diberi tugas memberikan minuman kepada para jemaah haji. Minuman yang lazim diberikan tersebut yaitu Air Zamzam.

Ini sebagaimana dikisahkan dalam hadis riwayat al-Bukhari:

اسْتَأْذَنَ العَبَّاسُ بنُ عبدِ المُطَّلِبِ رَضِيَ اللَّهُ عنْه رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أَنْ يَبِيتَ بمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى، مِن أَجْلِ سِقَايَتِهِ، فأذِنَ له

"Al-'Abbas bin Abdil Muṭṭalib meminta izin kepada Rasulullah ṣallallahu 'alaihi wasallam- untuk bermalam di Mekkah pada hari-hari di Mina karena tugasnya dalam memberi minum (jemaah haji). Beliau pun memberinya izin." (HR Bukhari).

Perhatian Rasulullah dan para sahabatnya terhadap jemaah haji utamanya para lansia adalah sebuah manajemen haji  Nabi  Muhammad yang sangat maju dan humanis pada masanya. Sehingga dengan model dan cara yang lebih modern hal seperti itu perlu untuk diteladani.

Karenanya, apa yang dilakukan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas juga segenap jajaran kementeriannya  dalam memuliakan tamu Allah, menjadikan para lansia dan disabelitas sebagai prioritas pelayanan haji merupakan sebuah kemuliaan.  Di sisi Allah, hal itu inshaAllah akan dinilai sebagai sebuah ibadah yang maha agung. Di samping, tentu saja, hal ini merupakan pemedomanan Kementerian Agama pada model manajemen ibadah haji ramah lansia ala Rasulullah.

Keikhlasan dan ketulusan jajaran Kementerian Agama serta para petugas PPIH pada pelaksanaan ibadah haji tahun 2023 patut untuk kita apresiasi bersama. Para petugas PPIH begitu ikhlas dan tulus melayani jemaah haji; menggendong jemaah lansia, membersihkan kotoran BAB/kencing dan memandikan mereka, membopong, mendorongkan kursi roda, dan memberikan bimbingan manasik kepada mereka.

Hal ini, menurut saya merupakan sebuah pelayanan paripurna Kementerian Agama yang semoga bisa menjadi inspirasi bagi para petugas PPIH 2024 agar mampu memberikan pelayanan dan memuliakan tamu allah lebih baik lagi.

Bagi para calon PPIH Arab Saudi 2024, kesuksesan Kementerian Agama melayani jemaah haji tahun lalu semoga mampu memotivasi untuk meluruskan dan menguatkan niat karena Allah dan  berharap mendapatkan pahala dari-Nya dengan melayani para tamu Allah utamanya para lansia sebagai wujud saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa sebagaimana firman-Nya:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa." (Q.S. Al-Maidah 5:2)

Selain itu Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di Hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah utang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)-nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim).

Menjadi petugas haji menurut prinsip atau kaidah fikih dimaknai sebagai "Al muta'addi afdhalu minal qashri", artinya ibadah yang memberikan manfaat bagi orang lain lebih utama daripada ibadah yang hanya berdampak pada diri sendiri. Jadi para petugas haji di samping memperoleh pahala tambahan atas membantu dan melayani jemaah juga otomatis mendapatkan pahala karena menjalankan ibadah haji.

Untuk menutup renungan ini, izinkan saya mengutip puisi Maulana Jalaludin Arrumi dalam puisi mistisnya, "Karena cinta duri menjadi mawar. Karena cinta cuka menjadi anggur segar."

Semoga, kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya menjadikan hati kita senantiasa ikhlas, tulus dan penuh kecintaan untuk melayani para tamu-Nya utamanya para jemaah haji lansia seperti kita melayani dan memuliakan orang tua kita sendiri. Amin.

Mujahidin Nur,
Koordinator Departemen Hubungan Luar Negeri & Antar Lembaga Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Calon Petugas PPIH Arab Saudi 2024.

Gagas Terkini