Dark
Light
Dark
Light
Top Banner

Melempar Jumrah bagi Jemaah Haji Lansia dan Disabilitas

Melempar Jumrah bagi Jemaah Haji Lansia dan Disabilitas

Diantara rangkaian ibadah haji yang wajib dilaksanakan adalah melempar jumrah aqabah pada tanggal 10 Zulhijah dan jamarat atau tiga jumrah di tiga hari tasyrik. Sementara bagi jemaah haji yang melakukan nafar awal yakni meninggalkan Mina menuju Makkah sebelum matahari terbenam pada 12 Zulhijah kewajiban melempar jumrahnya gugur. 

Melaksanakan rukun haji sang satu ini membutuhkan kondisi tubuh yang benar-benar fit. Sebab, dibutuhkan tenaga ekstra karena menumpuknya jemaah haji di satu titik. Tidak sedikit ketika melempar jumrah banyak jemaah haji yang drop karena kecapean, faktor usia, kondisinya yang sedang hamil, cuacanya yang ekstrem atau bahkan penyandang disabilitas dalam arti ia mengalami keterbatasan fisik sehingga menjadi problem dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji, khususnya melempar jumrah. 

Lalu bagaimana solusi bagi jemaah haji yang memiliki faktor-faktor tersebut? 

Dilansir dari NU Online, pada dasarnya melempar jamarat yang merupakan salah satu kewajiban ibadah haji harus dilaksanakan sendiri, jika ditinggalkan maka harus membayar dam sebagai gantinya. 

Terkait dengan seorang yang tidak mampu melempar jamarat secara mandiri, Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya Majmu' Syarah Muhadzab menjelaskan:

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ رَحِمَهُمُ اللَّهُ الْعَاجِزُ عَنْ الرَّمْيِ بِنَفْسِهِ لِمَرَضٍ أَوْ حَبْسٍ وَنَحْوِهِمَا يَسْتَنِيبُ مَنْ يَرْمِي عَنْهُ لِمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ وَسَوَاءٌ كَانَ الْمَرَضُ مَرْجُوَّ الزَّوَالِ أَوْ غَيْرَهُ لِمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ وَسَوَاءٌ اسْتَنَابَ بِأُجْرَةٍ أَوْ بِغَيْرِهَا وَسَوَاءٌ اسْتَنَابَ رَجُلًا أَوْ امْرَأَةً 

Artinya: "Imam Syafi'i dan para ulama madzhab Syafi'i berkata : "Orang yang tidak mampu melempar jumrah secara mandiri karena sakit, tertahan dan semisalnya, maka ia boleh mewakilkan kepada orang lain, seperti yang telah diungkapkan oleh mushanif. 

Sama saja apakah penyakitnya masih dapat diharapkan kesembuhannya atau tidak, dengan upah atau tanpa upah, mewakilkannya kepada lelaki ataupun wanita."

Lebih lanjut beliau menjelaskan permasalahan ini dalam kitabnya yang lain, Al-Raudhah sebagai berikut:   

الْعَاجِزُ عَنِ الرَّمْيِ بِنَفْسِهِ لِمَرَضٍ أَوْ حَبْسٍ، يَسْتَنِيبُ مَنْ يَرْمِي عَنْهُ. وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُنَاوِلَ النَّائِبَ الْحَصَى إِنْ قَدَرَ، وَيُكَبِّرُ هُوَ. وَإِنَّمَا تَجُوزُ النِّيَابَةُ لِعَاجِزٍ بِعِلَّةٍ لَا يُرْجَى زَوَالُهَا قَبْلَ خُرُوجِ وَقْتِ الرَّمْيِ، وَلَا يَمْنَعُ الزَّوَالُ بَعْدَهُ. وَلَا يَصِحُّ رَمْيُ النَّائِبِ عَنِ الْمُسْتَنِيبِ إِلَّا بَعْدَ رَمْيِهِ عَنْ نَفْسِهِ، فَلَوْ خَالَفَ وَقَعَ عَنْ نَفْسِهِ كَأَصْلِ الْحَجِّ. وَلَوْ أُغْمِيَ عَلَيْهِ وَلَمْ يَأْذَنْ لِغَيْرِهِ فِي الرَّمْيِ عَنْهُ، لَمْ يَجُزِ الرَّمْيُ عَنْهُ. وَإِنْ أَذِنَ، جَازَ الرَّمْيُ عَنْهُ عَلَى الصَّحِيحِ

Artinya: "Orang yang tidak mampu melempar jumrah secara mandiri, baik karena sakit atau tertahan, maka dia boleh menggantikan pelemparan jumrahnya pada orang lain. Dan jika ia mampu, disunahkan mengambil kerikil pelemparan jumrah kepada orang yang menggantikannya kemudian bertakbir.

Kebolehan mewakilkan hanya untuk orang yang tidak mampu karena sakit yang tidak bisa sembuh sebelum habis waktu melempar jumrah, sembuh setelah dilaksanakannya pelemparan jumrah yang diwakilkan tidak jadi masalah (tidak perlu mengulang). 

Tidak sah pelemparan jumrahnya kecuali sang wakil telah selesai melemparkan jumrah untuk dirinya sendiri. Jika berlawanan, maka pelemparan jumrah tersebut menjadi milik sang wakil seperti asalnya haji. 

Jika dia pingsan dan tidak memberi izin pada orang lain untuk melempar jumrah, maka tidak boleh orang lain menggantikan dirinya dalam melempar jumrah. Jika sudah memberi izin, maka boleh melemparkan jumrah untuk dirinya, menurut pendapat yang shahih."    

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Diperbolehkan mewakilkan pelemparan jumrah bagi seorang yang tidak bisa melempar jumrah secara mandiri; baik karena sakit yang masih dapat diharapkan kesembuhannya atau tidak yang penting kesembuhannya itu tidak mungkin terjadi sebelum waktu melempar jumrah usai, faktor usia atau lansia, tertahan, wanita yang sedang hamil dan terjadi desak-desakan ekstrem sedangkan dia seorang perempuan;
  2. Yang mewakili boleh laki-laki ataupun perempuan, satu orang atau lebih, baik dengan membayar atau cuma-cuma. Dan pihak yang mewakili haruslah orang yang telah menyelesaikan jamaratnya sendiri;
  3. Telah mendapatkan izin dari pihak yang mewakilkan.


Editor:
JADWAL SHOLAT
21 Juni 2024
14 Zulhijah 1445
Imsak
04:30
Subuh
04:40
Dzuhur
11:56
Ashar
15:18
Magrib
17:49
Isya'
19:04

Hikmah Terkini