Setelah Insiden Pembakaran Al Quran, Swedia Berlakukan Kontrol Perbatasan
Akhmad Baihaqi Arsyad
JENEWA, (ERAKINI) – Setelah insiden pembakaran Al Quran di Stockholm pekan lalu, pemerintah Swedia menegaskan keinginannya untuk menghentikan orang-orang yang berusaha masuk ke Swedia dan melakukan kejahatan. Hal itu dengan mengatur kontrol di perbatasan dalam negeri Swedia.
"Pada Mei tahun ini, Pemerintah memutuskan untuk memberlakukan kembali kontrol perbatasan. Alasan kami sangat jelas, terutama karena meningkatnya ancaman terhadap Swedia, terkait dengan peristiwa seperti insiden sebelumnya di mana Al Quran dibakar," kata Kementerian Luar Negeri Swedia, dikutip dari Antara, Minggu (2/7/2023).
Sehubungan dengan insiden pembakaran Al Quran yang merupakan kitab suci umat Islam, Kementerian Kehakiman telah diberi pengarahan tentang bagaimana otoritas polisi Swedia mengatur kontrol di perbatasan dalam negeri Swedia.
Selama demonstrasi, yang diizinkan oleh otoritas penegak hukum Swedia pada hari Kamis (29/6/2023) bertepatan dengan Idul Adha, seorang pria asal Irak yang memiliki hubungan dengan milisi Syiah, Salwan Momika (37), terlihat membakar halaman-halaman Al Quran.
Peristiwa yang terjadi di luar Masjid Pusat Stockholm itu menuai kecaman luas dari seluruh dunia.
Meskipun memastikan akan ada perlindungan terhadap kebebasan berekspresi, Kemlu Swedia menegaskan bahwa itu tidak berarti pemerintah mendukung setiap pendapat yang diungkapkan.
"Pertemuan publik yang sepenuhnya legal juga dapat bersifat polarisasi dan ofensif. Demonstrasi seperti yang terjadi Rabu (28/6) memiliki konsekuensi serius bagi keselamatan dan keamanan internal Swedia," ujar kementerian tersebut.

















