Dark
Light
Dark
Light
Top Banner

Cerpen ’Jangan Atas Namaku’

Cerpen ’Jangan Atas Namaku’

KAKEK Usman sudah selayaknya disebut pahlawan. Meski sudah 10 Tahun pensiun, kecintaannya pada dunia pendidikan tak bisa dipandang remeh. Buktinya, setiap hari ia masih tetap datang ke sekolah. Awalnya memang ia masih mengajar seperti biasanya. Belakangan karena pikun mulai menggerogoti (sering lupa halaman yang telah diajarkan) ia pun dipindahkan ke bagian tata usaha.

Sebentar lagi Kakek Usman akan masuk tahun ke 11 setelah pensiun.  Ketua yayasan melalui usulan Kepala Sekolah berencana menghadiahkannya ongkos naik haji. Tak tanggung-tanggung: ONH Plus. Kakek Usman pun tak perlu repot menunggu antrian.

"Ini tanda terimanya Pak Usman. Uangnya sudah kami transfer ke rekening Bapak. Semoga Pak Usman meraih haji mabrur, amin." Kata Kepala Yayasan saat memberitakan kabar baik itu kepada Kakek Usman.

Kakek Usman tercengang, lalu sesaat kemudian menangis haru. Sungguh, tak pernah selintas pun dia mengharapkan imbalan haji dari jerih pengabdiannya. Kalau pun sampai hari ini ia masih datang ke sekolah, tak lain karena ia ingin menahan laju pikun yang acap menyerang orang tua serupanya. Tetapi usia memang tak bisa berbohong, penyakit itu tetap saja mendatangi Kakek Usman.

Setelah selesai sarapan dan mencium kening istrinya, Kakek Usman gagah melangkahkan kaki menuju sekolah. 

Untuk sampai ke sekolah tempat ia mengajar,  Kakek Usman mestilah berjalan kaki terlebih dahulu menuju stasiun kereta. Pilihan itu semata-semata karena selain dekat (hanya 2 kilometer) Kakek Usman sememang ingin tetap berolahraga meski usianya sudah 71 tahun.

Andi, cucu Kakek Usman paling tua, acap menjulurkan tawaran tumpangan kepadanya. Selain tak tega melihat Kakek Usman jalan kaki ke stasiun, arah perjalanan Andi ke tempat kerja sememang searah stasiun. Akan tetapi, meski telah ulang berulang tali tawaran dijulurkan, tak sekalipun Kakek Usman menyambut niat itu dengan angguk setuju. Kesudahannya Andi pun tak pernah lagi menjulurkan tawaran kepada Kakek Usman.

Tiba di stasiun tujuannya, Kakek Usman mestilah harus menyambung perjalanan dengan ojek untuk sampai ke sekolah. Bila disambung dengan berjalan kaki, Kakek Usman tidak mungkin lagi sanggup berjalan. Perjalanan dari rumah ke stasiun sudah cukup sebagai olah raga, kalau lebih dari itu bukan olah raga namanya, tetapi sudah cari gara-gara. Lagi pula Kakek Usman tentulah akan terlambat. Jarak dari stasiun ke sekolah sekira 4 kali jarak berjalan kaki dari rumah ke stasiun.

Selain itu, usut punya usut, Kakek Usman rupanya tak sampai hati sekiranya tak menggunakan jasa Tukang Ojek stasiun yang sudah nyaris 10 tahun terakhir menjadi langganannya.

”Pak, kenapa selalu naik ojek saya? Apa ojek lain tak mau mengantarkan, Bapak?” tanya Tukang Ojek langganan Kakek Usman sekali waktu.

”Pernah kucoba naik yang lain, tapi tak ada yang pas cara mengendarai motornya. Aku sudah tua, kalau sampai jatuh, patah-patah nanti tulangku,” jawab Kakek Usman yang langsung disambut tawa pula oleh Tukang Ojek langganan Kakek Usman.

Tapi ini sudah 20 menit Tukang Ojek langganan Kakek Usman tak tampak hidung batangnya. Kakek Usman, pun sudah pula bertanya kepada Tukang Ojek lainnya. Namun tak satupun Tukang Ojek di stasiun yang tahu perihal kabar berita langganan Kakek Usman.

Putus asa menunggu, Kakek Usman memutuskan memilih salah satu Tukang Ojek yang sedang mangkal. Ketika kaki hendak ia angkat naik, tiba-tiba seorang Tukang Ojek datang terburu-buru memberi kabar kalau istri Tukang Ojek langganan Kakek Usman sedang mengalami pendarahan di rumah sakit. Kakek Usman yang ketepatan mendengar turun dari motor.

”Kenapa istrinya sampai pendarahan,” tanya Kakek Usman kepada Tukang Ojek yang membawa kabar.

”Mau melahirkan, Pak. Sekarang, Topan sedang mencari pinjaman uang untuk biaya operasi. Dia tak punya BPJS, sedangkan istrinya harus segera dioperasi,” kata teman langganan ojek Kakek Usman.

Mendengar penjelasan itu, Kakek Usman tak pakai lama-lama berpikir, ”Tolong cepat, antarkan aku ke rumah sakit tempat istri si Topan dirawat, Nak!” katanya pada Tukang Ojek yang tadi hampir membawanya.

Tiba di rumah sakit, Kakek Usman langsung menuju bagian keuangan.

“Pasien yang ditanggung Pak Topan, berapa biayanya, Bu?” cecar Kakek Usman kepada orang bagian keuangan rumah sakit.
“Sebentar, Pak. Pak Topan yang mana, ya?”
“Topan yang istrinya mau melahirkan dan harus segera dioperasi, Bu.”
“O, yang baru masuk sejam lalu, ya?”

Kakek Usman bingung. Manalah ia tahu pasti kapan masuknya istri Topan ke rumah sakit. Namun ia jawab saja, “Ya, Bu!”

“Totalnya 57 juta, Pak. Tapi itu masih bayangan saja.”
“Bayangan saja? Apa maksudnya itu?”
“Kita hanya memprediksi obat-obat yang biasanya lazim dipergunakan saja, Pak. Kalau memang harus ada obat tambahan, baik sebelum atau sesudah operasi, biayanya akan bertambah, Pak.”
“O, baiklah. Saya bayar 57 juta itu dulu, kalau kurang nanti saya bayar lagi.”

Tukang Ojek yang mengantarkan Kakek Usman terkejut. Sanking terkejut, dia tak sadar kalau Topan menepuk pundaknya.

“Hei, Karim, ada perlu apa kau ke sini?” tanya Topan.
“Eh, Pan. Iya, aku cuma mengantarkan bapak langgananmu. Tadi dia minta aku mengantarkannya,” jawab Karim, Tukang Ojek yang mengantarkan Kakek Usman.
“Apa? Pak Usman ke sini?”
“Iya.”
“Mana beliau?”
“Ini,” sambil menepuk pundak Kakek Usman yang sedang berdiri di sebelahnya.

Sungguh Topan tak sadar kalau Kakek Usman berdiri di sebelah kawannya itu. Dan betapa terkejutnya Topan ketika mengetahui bahwa semua biaya yang dia butuhkan telah dibayar lunas oleh Kakek Usman.

“Sudah, sudah, Pan! Sekarang temani istrimu di ruang operasi. Aku dan temanmu akan menunggu di kantin. Kalau kau butuh sesuatu jangan sungkan,” kata Kakek Usman menenangkan kekikukan Topan yang tak menyangka ditolong Kakek Usman.

 

***

Di sekolah, Pak Mustafa bertanya-tanya. Apa sebab Kakek Usman tak datang ke sekolah. Kepala sekolah itu semakin dikurung penasaran, sebab belum pernah Kakek Usman tak masuk meski telah pensiun. Apa ia sudah tak mau ke sekolah lagi karena sudah diberikan ongkos naik haji, bisik sangkanya memantul ke telinga. Tapi buru-buru dia istighfar, sebab telah buruk sangka pada Kakek Usman.

Jelang sore, sebelum murid dan guru-guru pulang dari sekolah, Kakek Usman tampak berjalan gontai menuju ruang kepala sekolah. Pak Mustafa yang sudah siap-siap mau pulang kaget ketika membuka pintu ruangannya. Tampak olehnya Kakek Usman berdiri di depan pintu ruangannya, mungkin sedang bersiap ingin mengetuk.

“Pak Usman? Masuk, masuk, Pak! Saya kira Bapak sakit, atau ada halangan sehingga tidak hadir. Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Pak Mustafa seraya menyilakan Kakek Usman duduk.

Setelah sempurna duduk, Kakek Usman pun menjelaskan dengan runut kembali peristiwa tadi pagi. Bahkan ia juga menjelaskan bagaimana hubungan kedekatannya dengan ojek langganannya itu. Pak Mustafa dengan takzim menyimak. Selesai Kakek Usman menjelaskan semuanya, Pak Mustafa pun paham apa yang membuat wajah Kakek Usman sempat berubah.

Pak Mustafa sesungguhnya juga tak bisa banyak-banyak berkomentar. Dia paham betul, bahwa uang yang diberikan pada Kakek Usman yang diniatkan untuk naik haji, senyatanya adalah sudah menjadi hak dan kewenangan Kakek Usman. Sehingga sekiranya uang itu akhirnya tak dipakai naik haji, Pak Mustafa tidak bisa protes, apalagi marah.

“Pak Usman, pulanglah! Soal uang naik haji itu sudah menjadi hak Bapak. Jadi jangan pula Bapak menjadi sungkan atau tak enak hati,” kata Pak Mustafa menjelaskan. Mendengar hal tersebut, kelegaan terbit dari wajah kakek Usman. Ia pun akhirnya izin pamit pulang.

***

Hari penyetoran haji plus tinggal sehari lagi. Namun uang yang Kakek Usman pakai untuk membantu istri ojek langganannya belum juga tertutupi lubang bocornya. Anak-anak Kakek Usman, bahkan Andi cucunya pun telah menyumbang kekurangan ongkos tersebut. Tetapi, kebocoran biaya operasi kemarin lumayan parah.

Sehingga dengan hati lapang Kakek Usman pun menerima kenyataan bahwa ia tak jadi naik haji tahun ini. Mungkin tahun depan, atau tahun depannya lagi rejeki beribadah ke tanah suci akan tercapai.

Akan tetapi, ketika kakek Usman bersama anak dan cucunya sedang berembuk perihal sisa uang yang mau diputar terlebih dahulu sebelum datang masa berhaji kembali, Pak Mustafa dan perwakilan beberapa guru datang ke rumah Kakek Usman.

Sungguh rejeki sememang tidak akan pernah tertukar atau lari ke mana-mana. Kedatangan Pak Mustafa dan guru-guru ternyata menjunjung niat mulia: meloloskan Kakek Usman untuk tetap berangkat naik haji tahun ini. Spontan, semua yang ada di rumah kaget bukan kepalang dan menitikkan air mata haru. Kakek Usman jadi naik haji!

Keesokan hari, subuh ketika ingin pergi salat ke masjid, Kakek Usman yang acap selalu salat berjamaah mendadak merasakan dada sebelah kirinya sakit. Begitu sakitnya, ia sampai harus duduk di depan pintu rumahnya karena tak sanggup lagi berbalik ke dalam rumah. Beberapa kali ia panggil Andi cucunya, tapi Andi tak membalas panggilannya. Tak kuat menahan rasa sakit yang semakin menjalar, Kakek Usman membaringkan badannya tepat di depan pintu rumah.

“Pak Mustafa, tolong daftarkan haji, tapi jangan atas namaku...”  

Akasia, 2024

Ilham Wahyudi,
Lahir di Medan, Sumatera Utara. Salah seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Seorang Fundraiser di Adhigana Fundraising. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan banyak yang ditolak redaksi. Buku kumpulan cerpennya ‘Buku Latihan Menulis Cerpen’ dalam waktu yang masih lama akan diterbitkan.

Sastra Terkini